Pages

Tuesday, 8 June 2010

Semua bermula dari mimpi

Mengenang masa kecilku, rasanya tidak ada orang yang berfikir seorang anak dari desa terpencil dipinggir hutan sepertiku akan bisa menapakkan kaki di negri orang. Dulu aku memang tahu di dunia ini ada negara bernama mesir, dengan kairo sebagai ibukotanya, namun itu hannyalah formalitas pelajaran ips yang mengharuskanku menghafalnya sebelum ujian.semua ini berawal dari mimpi, diperjelas dengan Visi dan dipermudah dengan keyakinan.

Ketika aku harus terpaksa merantau ke tanah jawa untuk melanjutkan studyku, karena di desaku tak ada yang namanya smp, sltp, atau apapun namanya sekolah lanjutan setelah sd. Sekolah sltp terdekat berjarak krang lebih 30 km dari desaku, dengan jalanan 20 km masih berupa tanah. Sehingga apabila ada anak yang hendak meneruskan sekolahnya, ia harus ngekos di desa lain. Itulah alasan mengapa aku bisa terdampar di pondok modern darussalam gontor. Sebagian besar teman-teman laki-lakiku dan beberapa teman perempuanku harus takluk pada keadaan untuk bekerja di perkebunan sawit yang memang menjamur di daerahku, dan hatiku selalu miris ketika mendengar bahwa pemilik perkebunan-perkebunan besar itu adalah orang china atau malaysia. Bahkan, sebagian besar teman perempuanku bahkan hanya menunggu waktu untuk dipinang oleh pemuda desa, atau berharap ada bos dari luar desa yang datang melamar mereka untuk sedikit mengangkat derajat hidup mereka. Dan hanya sebagian sangat kecil dari meraka yang dapat melanjutkan pendidikan mereka dengan alasan klasik, yang juga tertulis dalam mahfudzat “ ad dirhamu”, ya karena terbentur masalah biaya. Sebagai catatan, dari 16 teman sdku angkatan tahun 2003, hanya 2 orang yang hingga kini masih bisa menikmati bangku pendidikan, aku dan seorang temanku yang kini menempuh pendidikan kedokteran di universitas bengkulu.

Kini, aku telah sampai disini, dan ini bukanlah akhir, baru permulaan dari terwujudnya mimpi-mimpiku. meskipun aku telah berjalan pada track visiku yang benar, semuanya bergantung juga pada kerja keras dan konsistensiku nantinya dalam usaha shaping my uncertain destiny.

“Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history.” ( Barrack obama)

Monday, 7 June 2010

Kebenaran Kita Kini

Ketika kebenaran menjadi ambigu
Dan kemutlakan dianggap abu-abu
Suara hati dilabeli egoisme
Jeritan nurani dicap irrasionalisme
Kepada apa kita bisa bersandar
Jika bukan pada nilai yang kini telah terlempar
Hukum kini bukanlah soal kualitas’
Tetapi merupakan otoritas kaum mayoritas
Kala suara menjadi tuhan
Para ulamapun dikesampingkan
Orang-orang bodoh seolah berjuang
Namun pemenang akhirnya adalah pemilik uang
Lekangkah olehmu kegigihan socrates
Menentang silat lidah kaum sofis
Meski harus mati meregang nyawa
Demi nilai yang absolut adanya
Meski dunia semakin membingungkan
Semuanya pasti kan terpecahikan
Tanya saja pada hatimu
Karena ia takkan dustai dirimu

Saturday, 22 May 2010

"Jika engkau adalah "Rajawali", kau pasti kan terbang tinggi meski sendiri." (Taufik Ismail)

Friday, 30 April 2010

Asa hidupku

setelah malamku kulalui dengan pasrah
tidurku kumulai dengan padanya kuberserah
saat kelopak mata terbuka secercah
kulihat di ufuk sang fajar menyapaku denga ramah

“bangun, masih banyak rintangan tuk kau taklukkan,
masih banyak akal tertidur yang harus kau bangunkan,
banyak jiwa mati suri yang harus kau hidupkan,
bawalah sang makna tuk kembali bertahta".

sinarnya membangunkanku
tuk segera berdiri dan bersiap melaju
menderap langkah ke tempat yang kutuju
tempat semua rasa ini tercampur menjadi satu

ternyata, pagiku masih cerah kawan
sejuknya, bak air dari lereng gunung secawan
membasahi hatiku yang sempat kering dan gelap berawan
mengembalikan semua angan yang sempat hilang tertawan

asaku belum boleh pupus
masih terukir dalam dan takkan mudah terhapus
semuanya karena visi misiku tulus
yang asalnya dari suara hati yang teramat halus

aku masih harus bernyawa
paling tidak hingga kulihat ibuku tertawa
masih harus kutuntaskan tugasku yang utama
menghidupkan sesuatu yang telah mati dari jiwa

jalan ini telah kehilangan makna
tersisa doktrin yang terkulai hampa
baunya mengundang lalat subjektifitas yang siap menerkam
bersama individualisme manusia yang teramat kejam

mungkin jalan pikiranku terlihat aneh
terkesan culas dan mereka pikir ini nyeleneh
namun semua ini tak terkotori oleh nafsu
terlantun tulus dari hati kecilku

jika socrates ada tuk membungkam subjektifitas
dan muhammad hadir kala arab membutuhkan integritas
einstein eksis karena relatifitas
maka aku hidup karena semua kompleksitas

Sunday, 28 March 2010

Dibalik rapuhnya tubuhku

biar semua virus merongrong tubuhku
biar semua pedih perih tak henti menderaku
ide-ideku takkan terkebiri
otakku takkan lelah berkreasi
aku tahu tubuh ini rapuh
rentan dan suatu saat kan jatuh
semuanya juga begitu
orang terkuat sekalipun
raga ini hanya berrtahan dalam dekade
ruang tiga dimensi yang tak abadi
biarlah waktu yang menjadi saksi
kapanpun sang pemilik memintanya kembali
Tuhan selalu bijaksana
takkan perrnah ada manusia sempurna
seluruhnya tercipta dengan modal yang sama
meski dengan formulasi yang berrbeda
akupun telah memilih dalam rahim ibuku
untuk menjadi diriku
aku lebih memilih tuk jadi jiwa yang selalu bertanya
daripada sekedar menjadi raga perkasa yang tak bermakna