Pages

Showing posts with label sastra. Show all posts
Showing posts with label sastra. Show all posts

Thursday, 11 April 2013

Mimpi

Malam ini, Sebelum benar-benar bermimpi, Kita awali dengan khayalan tinggi Tentang kerjapan lucu mata anak kita di pagi hari Dandanan mereka baju warna-warni Ibunya tersenyum menuntun di sisi kiri, Wajahnya berseri, lesung pipinya menentramkan hati Rumah kita besar nan permai Cerobong asapnya menjulang tinggi Di halaman ada taman berpagar semak melati Mari, Kawan! kita jemput mimpi-mimpi Dengan lekas melelapkan diri Untuk kerja keras lagi esok hari Jangan sampai kesiangan lagi Oia, jangan lupa juga lantunkan doa selamat Agar Tuhan menjaga tidur kita dengan mengirimkan malaikat.

Monday, 7 June 2010

Kebenaran Kita Kini

Ketika kebenaran menjadi ambigu
Dan kemutlakan dianggap abu-abu
Suara hati dilabeli egoisme
Jeritan nurani dicap irrasionalisme
Kepada apa kita bisa bersandar
Jika bukan pada nilai yang kini telah terlempar
Hukum kini bukanlah soal kualitas’
Tetapi merupakan otoritas kaum mayoritas
Kala suara menjadi tuhan
Para ulamapun dikesampingkan
Orang-orang bodoh seolah berjuang
Namun pemenang akhirnya adalah pemilik uang
Lekangkah olehmu kegigihan socrates
Menentang silat lidah kaum sofis
Meski harus mati meregang nyawa
Demi nilai yang absolut adanya
Meski dunia semakin membingungkan
Semuanya pasti kan terpecahikan
Tanya saja pada hatimu
Karena ia takkan dustai dirimu

Sunday, 28 March 2010

Dibalik rapuhnya tubuhku

biar semua virus merongrong tubuhku
biar semua pedih perih tak henti menderaku
ide-ideku takkan terkebiri
otakku takkan lelah berkreasi
aku tahu tubuh ini rapuh
rentan dan suatu saat kan jatuh
semuanya juga begitu
orang terkuat sekalipun
raga ini hanya berrtahan dalam dekade
ruang tiga dimensi yang tak abadi
biarlah waktu yang menjadi saksi
kapanpun sang pemilik memintanya kembali
Tuhan selalu bijaksana
takkan perrnah ada manusia sempurna
seluruhnya tercipta dengan modal yang sama
meski dengan formulasi yang berrbeda
akupun telah memilih dalam rahim ibuku
untuk menjadi diriku
aku lebih memilih tuk jadi jiwa yang selalu bertanya
daripada sekedar menjadi raga perkasa yang tak bermakna

Wednesday, 10 February 2010

Sampah Indah Dari Otakku

penat jiwa ini jika hanya berharap pada ketidakpastian
lelah hati ni jika hanya bergantung pada diam
apapun yang terjadi nanti
bukan berarti aku telah mati

biarlah semua berjalan semestinya
jangan picik dengan keegoisan
skenarioNya tetaplah adidaya
hadapilah dengan pandangan ke depan

biarlah ia terus mengalir
bagai air yangbergemericik
jika tiba waktunya pasti kan sampai ke hilir
takkan terlambat walau sedetik

biarlah ia berhembus indah
bagai angin sepoi di sore yang redup
karena jiwamu tak akan lelah
jika engkau menikmati hidup

raga inni boleh tertinggal
namun jiwanya akan tetap dikenal
ruang dan waktu boleh membatasi
semangat dan citanya tak akan terhalangi

sahabat dan kawan boleh pergi
rintanganpun boleh datang silih berganti
namun jika kamu rajawali
kamu pasti kan terbang tinggi meski sendiri

buanglah semua kenangan masa lalu
kubur dalam-dalam angan masa mendatang
hari ini adalah harimu
anugrah tuhan adalah” sekarang”

jika kau ingin merrubah dunnia
tak perlu jauh perrgi kemana
ambil secarik kertas dan selaras pena
kemudian tulis apa yang ada

nagasaki dan juga hirosima
yang luluh lantak karena kekejaman sang bom
kehancurannya hanya bermula
dari tulisan einstein tentang atom

zaman akan terus berganti
para pujanggapun pasti kan mati
namun karyannya tetap abadi
karena ia tertinggal dalam hati

Wednesday, 27 January 2010

Aku Sang Nahkoda

Dalam sendiri kucoba bersajak, merangkai kata tuk pudarkan penat sejenak
Saat harapan hanyalah fatamorgana, cukup bagiku kata-kata jadi pelepas dahaga
Dalam sunyi kucoba bernyanyi, dalam lagu yang tak berbunyi
Walau mimpi belumlah pasti, bait ini menjadi bukti bahwa aku belum mati
Dalam sepi aku teringat, kawan lama yang dulu hangat
buku, kertas dan tintaku, aku datang tuk menjengukmu
Aku tuliskan semua rasa ini, dalam kalimat yang kucoba pilih
Marah yang membara,
kesal yang mengendap,
sepi, sunyi yang merasuki,
juga sedih yang menyayat hati,
aku yang terpasung dalam dua alam
antara harapan yang tak boleh kupadamkan, dan kenyataan yang tak bisa kuabaikan
antara keikhlasan yang berkuasa, dan kedengkian yang terus mamberontak
Dan yang terpenting, antara kebesaran jiwa , dan kekerdilan yang tengah mendapatkan suasana
Aku harus bisa bertahan, dalam badai emosi dan gelombang perasaan
Meskipun kapalku telah rentan, aku tak boleh tenggelam
Kukembangkan layar dengan berimajinasi, kuputar haluan dengan berpuisi
Kulawan badai dengan bermain kata-kata, kuredam gelombang dengan sastra
Walau belum sedalam karya buya hamka, Kahlil Gibran sekalipun pernah berstatus pemula

Monday, 25 January 2010

Kala pujangga meretas kembali jalannya

Ini adalah saat, untukku kembali meretas jalan. Menjadi seorang pujangga. Pekerjaanku yang sebenarnya meski telah lama kulupakan.
Dahulu aku adalah raja kata-kata, yang demikian mahir merangkainya. Namun keegoisanku pulalah yang meruntuhkan singgasana. Dikala harus memilih, untuk berkorban demi itqan tercinta, atau berkuasa dalam CLI yang jumawa, aku memprioritaskan yang kedua. Sehingga untuk jangka waktu yang lama, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman lamaku yang telah dulu hadir dalam hidupku, buku, pena, keyboard computer, dan nikmatnya berdiskusi.
Mesipun pekerjaanku yang baru tak jauh dari kata-kata pula, bahkan kini dengan bahasa berbeda. Disanapula aku harus berpura-pura menjadi raja, yang semua perintahnya ditaati para hamba. Membanggakan memang, hal itu pulalah yang merubah pribadiku, dari seorang pengecut yang hanya bisa berdiam diri menjadi seorang yang lebih berani berkata-kata. Namun, waktuku untuk bercengkrama dengan sang kertas dan pena menjadi terkebiri, Ataukah hanya karena kemalasanku saja? Aku tak tahu pastinya.
Sekarang, aku harus memulai semuanya dari awal. Aku tak lagi bisa menulis puisi-puisi indah dengan menutup mata. Telah hilang dari diriku kemampuan tuk membiarkan sang pena berjalan dengan sendirinya, berkreasi dengan tintanya, dan datang dengan sebuah karya indah. Sekarang aku harus berfikir dalam-dalam, mencoba mengorek sisa-sisa hiperbola yang ada. Merestore file-file yang dulu ter delete karena mungkin kuanggap spam. membackup data-data yang dulu sempat membuatku selalu mendapat “A” dari taufiq affandi, guru sastraku yang datang di senin malam, tepatnya di tunis lantai 2, kamar paling pojok,201, ITQAN Group tercinta.
Semua ini karena keyakiananku mengatakan, aku bisa berkarya. Setidaknya seperti apa yang telah diperbuat Habiburrahman El Shirazy, yang dengan sukses mevisualisasikann sosok sempurna Fakhri dalam “Ayat-Ayat Cinta”nya, merubah opini pelajar malas dalam diri Khoirul Azzam menjadi seolah pahlawan keluarga dalam “Ketika Cinta Bertasbih”nya. Atau setingkat dengan Andrea Hirata, yang dengan sedikit rekayasanya mampu mempositifkan arti mimpi, sekaligus membuat gurunya dihargai demikian besarnya. Padahal di ranah Sumatra sana, sebagian besar guru di daerah pedalaman, melakukan hal yang sama dengan pengorbanan ibu Muslimah. Aku bahkan berani bertaruh bisa membuat sesuatu yang lebih baik dari kehampaan proversi dalam Negeri Lima Menara. Aku sedang mencoba tuk memahami Science, untuk kemudian menyisipkannya dalam sastra nusantara, seperti yang dilakukan para pujangga di Negara dunia pertama, akan lebih berasa karena terbungkus realita dan fakta.
Maaf jika dalam blogku akhir-akhir ini, kalian hanya bisa menemukan ide hebat yang terbungkus sampah. Tulisan-tulisan pendek yang tak berkemasan rapi, tak ada referensi, pun penataan formalitas kata-kata yang terkesan hancur. Tentunya tulisan Buya Hamka dalam penjara pun lebih baik daripada ini. Tetapi aku baru masuk penjaraku kawan, setidaknya untuk saat ini, ha ha. Jadi ini semua baru dimulai. Namun , cobalah kalian tangkap sang arti yang tersembunyi, kuharap engkau menjadi salah satu orang yang dari awal menyadari. Ada ide-ide sehebat pikiran Socrates, keobyektifan setulus Al Kindi, dan koreksian seideal Ibnu rusyd. Sebelum nantinya aku membungkusnya dengan kemasan baru yang tentunya unik dan diminati pembeli.
Aku berharap kalian sudi tuk tinggalkan kesan, pesan darimu akan bermakna signifikan, sebagai acuan tuk mereformasi tulisan. Puja-puji atau caci maki, sanjungan ataupun hinaan, apapun hanya akan kusikapi sama, terimakasihku yang sebesarnya. Tetapi tentunya mengenai ini, bukan mengorek sisi pribadi atau hanya sekedar memancing emosi. Semuanya ada etika.
Kuharap dari pembaca ada seseorang yang kunanti, seorang partner yang saling mengoreksi. Yang selevel denganku atau lebih baik. Nantinya kuharap ia menjadi sahabat sejati, atau lebih dari itu barangkali, ha ha ha. Yang benar, setulusnya hatiku aku kini tengah mencarii seorang sahabat sejati, yang bisa menimpali ide-ideku dan membalas alasan-alasanku, belum kutemui sejauh ini. Ataukah perfeksionismeku kali ini tak berarti? Aku tak tahu, namun aku akan tetap sabar menanti.
Dari hamba Allah yang mencoba memahami hidup, namaku Kurniawan Dwi Saputra.

Tuesday, 14 July 2009

the 19th

19 tahun? hari ini, aku tak tahu apakah ini berarti umurku bertambah atau berkurang. tetapi yang [pasti aku tahu hari-hariku berikutnya akan jauh lebih sulit. aku harus lebih kuat sekarang, menghadapi cobaan dan rintangan yang akan banyak kutemui diperjalananku.
"YoU ArE JuDged by the strenght of your eNemies"
Inna al insaana khuliqo haluu'an
manusia itu memang diciptakan dengan rasa kegelisahan yang selalu.
kadangkala aku merasa yakin bisa menghadapi kehidupanku seolah semuanya akan baik-bak saja.
tetapi suatu saatpun aku merasa semuanya seolah kelabu, tak aa harapan, keputusasaan yang memenjarakanku.
saat ini yang benar-benar aku butuhkan adalah seorang teman, yang mamopu meyakinkanku disaat aku bimbang.
memberiku motivasi ketika aku sedang "down"
yang menerima diriku apa adanya, dengan segala kekurangan dan sedikit kelebihan yang akua punya.
ini kutujukan untuk semua temanku.
aku harap kalian mau menjadi sahabatku, terutama
"sahabat baikku"

Thursday, 25 June 2009

nightmares in 2008

semua oranmg pernahmerasakan masa-,asa sulit, begitu pula diriku. aku tak bermaksud untuk terus berkubang dalam sedih. tetapi aku hanya ingin menceritakan kisahku, agar aku bisa belajar darinya.
semua itu diawali dengan sesuatu yang indah yang bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya. saat yudisium kelas 5, aku mendapat penggilan pertama nomor 2 bro!, panggilan pertamanya sih ga da yang special, tapi nomor 2? aku bahkan hanya mengira akan masuk 5 besar saja. itu sudah amat baik. well it's good beginning.
tetapi semunay seolah berhenti disini, setelah itu rentetan musibah seolah telah mengantri menyambangiku.
Inna lillah

Sunday, 7 June 2009

a need or a pride ?

ketika kebutuhan harus berhadapan dengan kepentingan , apakah yangh akan anada prioritaskan? suatu kondisi yang termasuk dalam " supercomplicated". memecahkan masalah besar ini tak semudah menemukan bagaimana cara memecahkannya.
aku yakin orang orang yang masuk kategori "ulil albab" alias "the enlightened" mampu menemukan kesadaran dalam sebuah eksplorasi otaknya. tetapi untuk melangkah lebih maju, hanya orang-orang yang ikhlas sajalha yang rela mengorbankan "present gift"

Tuesday, 5 May 2009

the true friends

ada pepatah yang aku kirim ke teman, pepatahnya berbunyi: teman itu seperti matahari, takkan selamanya bersinar, tapi kamu bisa pastikan bahwa esok ia akan bersinar lagi. dua tanggapan berbeda kudapat, yang pertama menulis: jangan ragukan matahari, karena ia akan terus bersabar menanti berlalunya malam tuk kembali bersinar esok.dan satu lagi berkata: kita buktikan saja siapa yang akan bersinar paling terang. uhhhh, itulah jawaban dari dua orang dari teman teman terbaikku. menurutku persahabatan itu lebih dari sekedar cinta. karena cinta adalah persahabatan yag tidak tulus setelah dicemari oleh nafsu. menurutmu bagaimana? siapapun anda anda harus tahu siapa saya untuk mengatakan pendapat anda tentanng ini.

Saturday, 2 May 2009

complicated


hari- hari kulalui seperti biasa, selalu dalam komplikasi kehidupan yang super duper membingungkan. jiwa inipun masih tetap labil, terkadang yakin dalam melangkah. terkadang bimbang untuk memutuskan, memang seperti inilah manusia. makhluk sosial yang tidak bisa sembuh dari kecanduan untuk bermasyarakat. disaat permasalahn hidup semakin riil, seharusnya aku sudah bisa konsisten dengan prinsip dan pendirianku. tapi nyatanya aku masih terus mencari bentuk yang kuinginkan yang sesuai dengan kepribadianku. ini bukanlah keluhan keputusasaan, sekedar kata-kata tergulir tuk melepas gelisah. yang jelas aku sudah merasa jauh lebih baik dari tahun sebelumnya, aku merasa mendapat pencerahan yang amat signifikan. uhhhh, this is the real life!

Friday, 17 April 2009

about kurniawan

aku adalah jiwa yang selalu berubah, mengikuti kata sang nurani. aku sekarang bukanlah aku yang dulu, dan akupun takkan katakan aku akan tetap seperti ini. namun satu hal yang takkan pernah berubah dariku. kepatuhanku pada bisikan-bisikan suci, yang datang entah dari mana. aku adalah jiwa yang kalap, tergopoh-gopoh dan ceroboh, tetapi sang ilmu telah merubahku, menjadi seorang kurniawan yang lebih bijak. aku adalah jiwa yang rendah, hina dina dalam ketakutan. tetapi alam ini hanya memberiku suatu pilihan, berani menghadapi rimba dunia, atau selamanya tersembunyi dalam galau. aku bukanlah seseorang yang bertalenta, berkatapun aku harus berkaca. tetapi akal ini mengajariku untuk menguasai semuanya. aku tak terlahir dalam bangga, memulai hidup dengan tertatih. tetapi kemaunan hati ini selalu memaksaku tuk berlari. meniggalkan pelari-pelari lainnya. aku adalah diriku. seonggok jiwa yang selalu berevolusi..........dengan makna yang selalu membara. AKU

suara hatiku!

aku ingin selalu berteriak, mengatakan apa yang tersimpan dalam diri ini. tak peduli walau mereka kan merintangi. ini jalanku, hidup dan matiku. mereka tak berhak menentukan arah tujuanku. aku ingin selau pergi jauh, berkelana hingga ujung dunia. menapakkan kaki ini paa bui yag terhampar luas. agar aku bisa memahami semua rahasia yang tersembunyi. mungkin diriku bukanlah siapa-siapa. tak terlahir sebagai seorang raja, tak terproses dengan indahnya takdir.. . aku tak peduli.aku hanya ingin diriku menjadi salah satu dari sedikit orang yang terpanggil dengan suara-suara lirih alam ini. tuk kemudian terpana dan bersujud. subhanallahi amma yusyrikun!

Friday, 27 March 2009

Jeritan hati teman bisuku

Jeritan hati teman bisuku
Ugh, aku tak mampu lagi bertahan tuk mendengar jeritan-jeritan memilukan hati ini. Teriakan-teriakan memelas yang melelehkan hati. Aku harus katakan ini pada semuanya, meskipun aku tak tahu apakah mereka mendengarkanku. Agar mereka semuanya tahu bahwa buku itu berteriak meronta-ronta. Menangis sedih karena ia selalu sepi dan tak satupun peduli. Ia sudah amat muak dengan keoportunisan para debu yang akan selamanya menyiksanya pabila tak satupun orang menyentuhnya. Sudah terlalu lama ia terhantui dengan hegemoni kekejaman kanker jamur yang setiap saat bisa merambahnya jikalau keaaan ini tak berubah. Pun ia harus selalu terjaga dari ancaman kutu busuk dan gerombolan hewan parasit lainnya yang takkan segan menggerogoti helai demi sehelai lembaran tubuhnya. Ia sudah terlalu lelah hanya bersandar lemah pada rak kayu yang amat tua ini. Hatinya seakan tersayat bila seseorang datang mengambil salah satu temannya, membersihkan debunya kemudian membacanya. Ia berteriak sekerasnya: ”Baca aku! Banyak ilmu yang belum kau tahu ada padaku! baca aku!!!” tetapi bagaimanapun manusia takkan pernah memahami kata-katanya. Hatinyapun selalu diselimuti kekhawatiran jikalau petugas perpustakaan datang memeriksa rak demi rak tuk mengambil buku-buku yang sudah tak layak baca. Kemudian memisahkannya dan setelah itu mungkin membuangnya ke tempat sampah atau membakarnya menjadi kepingan abu. Ia tak ingin hal itu terjadi padanya.
Ia ingin dibelai mesra lembar demi lembar, disentuh lembut halaman demi halaman, dibaca detail kata demi kata tuk kemudian direnungi. Ia ingin apa yang ia punya merasuk dalam mindset para filosof , kemudian menjadi ide-ide alternative yang inovatif. Dengan itu mereka membangun dunia baru. Yang manfaatnya bisa dirasakan oleh hewan yang bahkan lebih kecil dari nyamuk. Atau ia dibaca oleh seseorang yang ingin tahu, agar setidaknya menjadi seperti keledai yang tak pernah terperosok kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya.
Ia berharap di kehidupan yang sudah terpolusi dengan paham kapitalis yang amat konsumtif ini masih ada beberapa orang peduli dengan dunianya lewat buku-buku sepertinya. Dunia ini butuh lebih banyak AJB Bumiputera 1912,yang rela memberi kesempatan bagi orang-orang yang mau berfikir tuk berekspresi Dengan begitu paling tidak mereka bisa menjadi lebih bermanfaat dariku yang hanya sekedar pembatas buku, yang hanya bisa mendengarkan tangisan sang buku tanpa bisa sedikitpun membantunya. Aku berharap kamu wahai pembaca merupakan salah satu dari orang-orang berhati mulia itu.

Friday, 20 March 2009

baraku belum padam

baraku belumlah padam, justru semakin membara karena semua ini. jangan pernah berfikir aku akan berhenti mengejar, karena itu hanya kan membuat lariku semakin kencang. mungkin aku telah terjatuh, tetapi aku telah bangun kembali.

Friday, 27 February 2009

juara

bukan hati merasa jumawa, bukan pula ku mengklaim digdaya, tak terbersit secercahpun dalam hatiku tuk meraja. ini adalah misi yang kucanangkan, sebuah tekad yang tertanam, dalam hati yang terdalam. dalam otak yang terpeka. aku ingin mereka semua tahu. sang juara telah datang. meskipun tak menjamin keabadian ketenangan. tetapi keberhasilan sebuah misi yang telah lama terpendam.

Saturday, 14 February 2009

cerita tentang kita

aku tak bermaksud sedikitpun tuk membuka luka lama, karena akulah yang mendapat luka paling menyakitkan. inipun lukaku yang kan menyakitkanku. aku hanya ingin sekedar berkaca, semoga esok hari lebih baik. ini semua tentang timku, yang mencoba bekerjasama demi suatu tujuan yang masih samar, terlalu berani kalau kukatakan jelas. karena semuanya kelabu seperti langit mendung. kita mencoba tuk merangkai cerita indah, meskipun terkadang rencana tak akan selamanya sempurna. sayangnya kita mendapatkan cerita yang tak indah. dari lembaran kehidupan yang penuh liku ini. ketika suatu tujuan harus berhadapan dengan kepentingan, dan harapan telah tercemar oleh keinginan, maka semuanya menjadi serba sulit. bahkan bertahan hidup sekalipun akan terasa sangat menyakitkan. jujur saja, ini tentang anak-anak yang berdiam di lantai dua, dari sebuah bangunan yang namanya adalah nama india. mereka yang dianggap para polisi bahasa. inlah tumpah ruah kemuakanku dengan orang-orang yang takut dibenci, hanya unjuk gigi bila ada sesuatu untuk dipuji. mereka ibarat raja, tetapi sebenarnya mereka hamba jiwa yang hina. juga orang-orang yang tak sepenuh hati, hanya mau enaknya sendiri. kau kira dunia ini seindah mimpimu? tanyakan pada orang-orang yang bangga padamu, terpukau dengan ocehan mautmu. meskipun itu adalah palsu.