Pages

Wednesday, 27 January 2010

Aku Sang Nahkoda

Dalam sendiri kucoba bersajak, merangkai kata tuk pudarkan penat sejenak
Saat harapan hanyalah fatamorgana, cukup bagiku kata-kata jadi pelepas dahaga
Dalam sunyi kucoba bernyanyi, dalam lagu yang tak berbunyi
Walau mimpi belumlah pasti, bait ini menjadi bukti bahwa aku belum mati
Dalam sepi aku teringat, kawan lama yang dulu hangat
buku, kertas dan tintaku, aku datang tuk menjengukmu
Aku tuliskan semua rasa ini, dalam kalimat yang kucoba pilih
Marah yang membara,
kesal yang mengendap,
sepi, sunyi yang merasuki,
juga sedih yang menyayat hati,
aku yang terpasung dalam dua alam
antara harapan yang tak boleh kupadamkan, dan kenyataan yang tak bisa kuabaikan
antara keikhlasan yang berkuasa, dan kedengkian yang terus mamberontak
Dan yang terpenting, antara kebesaran jiwa , dan kekerdilan yang tengah mendapatkan suasana
Aku harus bisa bertahan, dalam badai emosi dan gelombang perasaan
Meskipun kapalku telah rentan, aku tak boleh tenggelam
Kukembangkan layar dengan berimajinasi, kuputar haluan dengan berpuisi
Kulawan badai dengan bermain kata-kata, kuredam gelombang dengan sastra
Walau belum sedalam karya buya hamka, Kahlil Gibran sekalipun pernah berstatus pemula

Monday, 25 January 2010

Kala pujangga meretas kembali jalannya

Ini adalah saat, untukku kembali meretas jalan. Menjadi seorang pujangga. Pekerjaanku yang sebenarnya meski telah lama kulupakan.
Dahulu aku adalah raja kata-kata, yang demikian mahir merangkainya. Namun keegoisanku pulalah yang meruntuhkan singgasana. Dikala harus memilih, untuk berkorban demi itqan tercinta, atau berkuasa dalam CLI yang jumawa, aku memprioritaskan yang kedua. Sehingga untuk jangka waktu yang lama, aku harus mengucapkan selamat tinggal kepada teman-teman lamaku yang telah dulu hadir dalam hidupku, buku, pena, keyboard computer, dan nikmatnya berdiskusi.
Mesipun pekerjaanku yang baru tak jauh dari kata-kata pula, bahkan kini dengan bahasa berbeda. Disanapula aku harus berpura-pura menjadi raja, yang semua perintahnya ditaati para hamba. Membanggakan memang, hal itu pulalah yang merubah pribadiku, dari seorang pengecut yang hanya bisa berdiam diri menjadi seorang yang lebih berani berkata-kata. Namun, waktuku untuk bercengkrama dengan sang kertas dan pena menjadi terkebiri, Ataukah hanya karena kemalasanku saja? Aku tak tahu pastinya.
Sekarang, aku harus memulai semuanya dari awal. Aku tak lagi bisa menulis puisi-puisi indah dengan menutup mata. Telah hilang dari diriku kemampuan tuk membiarkan sang pena berjalan dengan sendirinya, berkreasi dengan tintanya, dan datang dengan sebuah karya indah. Sekarang aku harus berfikir dalam-dalam, mencoba mengorek sisa-sisa hiperbola yang ada. Merestore file-file yang dulu ter delete karena mungkin kuanggap spam. membackup data-data yang dulu sempat membuatku selalu mendapat “A” dari taufiq affandi, guru sastraku yang datang di senin malam, tepatnya di tunis lantai 2, kamar paling pojok,201, ITQAN Group tercinta.
Semua ini karena keyakiananku mengatakan, aku bisa berkarya. Setidaknya seperti apa yang telah diperbuat Habiburrahman El Shirazy, yang dengan sukses mevisualisasikann sosok sempurna Fakhri dalam “Ayat-Ayat Cinta”nya, merubah opini pelajar malas dalam diri Khoirul Azzam menjadi seolah pahlawan keluarga dalam “Ketika Cinta Bertasbih”nya. Atau setingkat dengan Andrea Hirata, yang dengan sedikit rekayasanya mampu mempositifkan arti mimpi, sekaligus membuat gurunya dihargai demikian besarnya. Padahal di ranah Sumatra sana, sebagian besar guru di daerah pedalaman, melakukan hal yang sama dengan pengorbanan ibu Muslimah. Aku bahkan berani bertaruh bisa membuat sesuatu yang lebih baik dari kehampaan proversi dalam Negeri Lima Menara. Aku sedang mencoba tuk memahami Science, untuk kemudian menyisipkannya dalam sastra nusantara, seperti yang dilakukan para pujangga di Negara dunia pertama, akan lebih berasa karena terbungkus realita dan fakta.
Maaf jika dalam blogku akhir-akhir ini, kalian hanya bisa menemukan ide hebat yang terbungkus sampah. Tulisan-tulisan pendek yang tak berkemasan rapi, tak ada referensi, pun penataan formalitas kata-kata yang terkesan hancur. Tentunya tulisan Buya Hamka dalam penjara pun lebih baik daripada ini. Tetapi aku baru masuk penjaraku kawan, setidaknya untuk saat ini, ha ha. Jadi ini semua baru dimulai. Namun , cobalah kalian tangkap sang arti yang tersembunyi, kuharap engkau menjadi salah satu orang yang dari awal menyadari. Ada ide-ide sehebat pikiran Socrates, keobyektifan setulus Al Kindi, dan koreksian seideal Ibnu rusyd. Sebelum nantinya aku membungkusnya dengan kemasan baru yang tentunya unik dan diminati pembeli.
Aku berharap kalian sudi tuk tinggalkan kesan, pesan darimu akan bermakna signifikan, sebagai acuan tuk mereformasi tulisan. Puja-puji atau caci maki, sanjungan ataupun hinaan, apapun hanya akan kusikapi sama, terimakasihku yang sebesarnya. Tetapi tentunya mengenai ini, bukan mengorek sisi pribadi atau hanya sekedar memancing emosi. Semuanya ada etika.
Kuharap dari pembaca ada seseorang yang kunanti, seorang partner yang saling mengoreksi. Yang selevel denganku atau lebih baik. Nantinya kuharap ia menjadi sahabat sejati, atau lebih dari itu barangkali, ha ha ha. Yang benar, setulusnya hatiku aku kini tengah mencarii seorang sahabat sejati, yang bisa menimpali ide-ideku dan membalas alasan-alasanku, belum kutemui sejauh ini. Ataukah perfeksionismeku kali ini tak berarti? Aku tak tahu, namun aku akan tetap sabar menanti.
Dari hamba Allah yang mencoba memahami hidup, namaku Kurniawan Dwi Saputra.

Thursday, 7 January 2010

the other meaning of patience

selama ini yang aku( kamu bagaimana?) ketahui tentang sabar hanyalah pasrah. makna yang menurutku mengandung aura negatif,padahal "shabran jamiilan" tentunya mengandung konotasi positif karena Allah swt menjelaskan dalam Al qur'an dengan kata "jamil".
aku sempat menemukan beberapa arti kata sabar yang bermakna positif, waktu itu ada ayah dari temanku yang menasehatiku,
beliau mengatakan bahwa sabar bisa bermakna : ketekunan, kekuatan menahan godaan, konsistensi, komitmen, dan istiqomah.
hal-hal diatas membuatku menemukan dimensi lain dari kata sabar, tetapi sepertinya itu belum cukup. aku masih belum puas dengan pejelasan diatas.
adakah teman-teman mempunyai jawaban atas pertayaanku diatas,
jawaban atau pendapat anda akan menjadi masukan yang amat berharga untukku.

Saturday, 31 October 2009

Apakah Tuhan Semua Agama Sama?

Dalam Agama islam konsep Tauhid uluhiyyah sangat ditekankan disamping tauhid rububiyyah. Tauhid uluhiyyah yang bersifat practice, adalah hal yang membedakan seorang muslim dari semua umat beragama.
kalau kita cermati, meskipun dalam prakteknya setiap agama berbeda-beda tetapi sebagian besar agama mengakui adanya Dzat yang maha kuasa tak tersentuh oleh panca indra yang merupakan Sang Pencipta Alam semesta ini.
inilah yang dalam islam disebut tauhid rububiyyah.
Agama-agama samawi sepakat bahwa Allah Adalah Sang maha kuasa yang dimaksud. meskipun dalam kristen Yesus Kristuslah yang mendapatkan otoritas untuk disembah.
Para Pemeluk animismepun meyakini bahwa Ada satu kekuatan yang mengendalikan roh-roh yang mereka sembah. begitupula para pemuja dinamisme yang yakin bahwa Bulan, bitang, matahari dsb hanyalah tempat untuk mendekatkan diri kepada kekuatan yang absolut tersebut.
tetapi inilah yang ditekankan dalam tauhid uluhiyyah-nya islam, bahwa seorang yang meyakini adanya Dzat yang maha kuasa haruslah benar-benar Menyembah kepada yang haq tnpa perantara apapun, bahkan syirik ( menyekutukan Tuhan) dalam islam adalah dosa yang terbesar.
Pada akhirnya, Agama ( islam) memang hanya untuk orang-orang yang berfikir.

Monday, 26 October 2009

Evolusi selaras Dengan Al qur'an

Selama ini para agamawan menganggap teori evolusi bertentangan dengan agama. hal ini terutama karena kerja keras Harun Yahya dan timnya menentanng teori ini sehingga menimbulkan wacana di kalangan umat islam bahwa teori evolusi adalah salah dan pengikutnya adalah kafir.
padahal harun yahya belum benar-benar mematahkan teori ini secara absolut, hanya bagian terlemah dari teori ini dan kemudian memberikan citra negatif.
padahal di dalam Al qur'an banyak ayat-ayat yang ternyata kalau ditelaah mengandung makna yang similar dengan apa yang selama ini diungkapkan para pendukung teori evolusi.
salah satunya adalah ayat yang menyatakan bahwasanya semua makhluk hidup diciptakan dari air kemudian menjadikannya ada yang melata, dan ada yang berjalan.
sementara alibi kuat agamawan untuk menolak teori evolusi ini adalah pendapat mereka yang menganggap teori ini bertentangan dengan teori "kun fayakun", padahal teori ini hanyalah spekulasi yang sama sekali belum dibuktikan keilmiahannya.
juga konotasi negatif teori evolusi karena hubungannya dengan faham-faham fasis, komunis, marxis, dan paham lain yang cenderung duniawi.