Wednesday, 8 January 2014
Kangen
Monday, 19 August 2013
Plot itu bernama Isco
Saturday, 13 April 2013
Iman dan Islam
Thursday, 11 April 2013
Mimpi
Monday, 8 April 2013
Sniper
Friday, 8 March 2013
Tuli dan Budeg
Tuesday, 29 May 2012
The Ultimate Me
Friday, 11 May 2012
Mencintai Bayangan
Tuesday, 10 January 2012
Terbang
Biar ia mengutas senyum bersama hidupnya yang baru, dan aku kembali menggeluti mimpiku, menghabiskan malam-malamku bersama teman lamaku yang paling setia, tuts tuts key board ini. Suatu saat ia akan tahu, sepenuhnya diriku. Karena dia pasti membacanya. Dan karena aku tak benar-benar pergi darinya, aku hanya pergi dari kenyataannya. Aku akan menjadi fatamorgana yang nyata namun tak bisa lagi disentuh, karena aku telah mengudara.
Aku masih ingin mendengarkan kata itu, tapi untuk saat ini adalah lebih baik bagiku untuk tidak mendengarnya. Mungkin juga untuk selamanya.
Nanti, kau akan tahu sobat. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Tapi, sekali lagi ini menurutku. Dan jika “yang terbaik” itu bukanlah sesuatu yang engkau anggap baik, tentu saja aku mempersilakanmu atas semua keputusanmu. Dan karena aku juga punya pilihan. Biarlah gengsi masing masing dari kita menghancurkan rasa kita yang terdalam. Lalu, mari kita nikmati bagaimana rasanya?
Sesalkah? Sekarang belum bisa kita terka bagaimana nasibnya.
Semoga Tuhan memberimu kesempatan, untuk mencicipi rasanya bersaing denganku, menjadi rivalku. Dan aku akan sangat tertantang, jika kau bisa mengalahkanku. Karena dengan begitu, aku akan mengejarmu dan balik mengalahkanmu.
Wednesday, 13 April 2011
Travelling ke Japanese Garden
Rasa suntuk akhir akhir ini membuat minatku untuk jalan-jalan guna melepas penat membuncah. Masih tak tahu harus pergi kemana dan bersama siapa hingga senin malam Fenti menelponku untuk makan malam di Basmalah. Dan disana Agus mengajak kita untuk travelling. Sebelumnya aku memang pernah berjanji mengajak mereka ke Hadiqoh Yaban (Japanese Garden atau taman bernuansa Jepang di Kairo).
Akhirnya, selasa 12 April 2011 kami berempat (aku, Agus, Fenti, dan Jhonaidi) berangkat ke Hadiqoh Yaban di Helwan. Sebelumnya aku sempat ragu, karena belum sekalipun aku kesana, bahkan tanah Helwanpun belum barang sekali kutapak. Namun sepertinya kami memang harus pergi, Agus bilang Fenti sedang butuh hiburan. Dia tampak bête berat belakangan, kebetulan akupun sama. Ok, let’s go.
Naik metro alias kereta api, kami sempat salah turun di stasiun Hadayek Helwan, aku kira tamannya di sekitar stasiun itu. Cz namanya aja Hadayek yang artinya taman taman. Logikakupun memahami bahwa sang taman bertempat tinggal tak jauh dari situ. Dan ternyata kesimpulan tanpa premis penguat bernama pengalaman itu salah. Masih 3-4 stasiun lagi boy.
Akhirnya kembali masuk kereta dan turun di stasiun paling ujung, Mahathah Helwan. Berpose sejenak di depan stasiun. Kamipun merasa menjadi turis ketika melangkah keluar stasiun. Maklumlah, di kawasan ini masih jarang orang asing. Wajar jika mereka takjub menyaksikan manusia-manusia yang tak sejenis dengan mereka, haha. Yang berambut lurus, berkuliat sawo matang, dan berpostur lebih kecil
“Inta Shini wala Yabani?” (kamu orang china atau jepang)
Pertanyaan klasik bagi orang asia seperti kami. Mereka pasti mengira kita adalah anak cucu bangsa ras kuning. Padahal kulit kami (kulitku khususnya yang jauh dari warna cerah, haha) tak terlalu terang dan mata kami tak terlalu sipit. Namun mereka memang kesulitan membedakan orang orang asia timur.
Tak jarang pula anak anak kecil memandangi kami dengan raut muka heran, atau sekelompok anak anak yang berteriak mengelilingi kami dengan berteriak:
“Shini, Shini!” (Orang china, orang china)
Ya, walaupun hipotesa mereka salah, namun kami bahagia karena sudah berjasa membuat mereka riang dan girang. Serta sedikit bangga karena diperlakukan bak artis, haha. Risih juga sih kadang karena tak bisa bergerak bebas. Rupanya begini rasanya jadi artis, haha.
Akhirnya sampai juga kami di taman bercita rasa jepang. Haha, aku selalu tergelitik mengingat kalimat taman bercita rasa jepang. Belum lama ini Azmi, teman sekamarku menjelaskan kepadaku dengan antusiasme yang luar biasa.
“ Woi, denger deh! Ada taman bercita rasa jepang di Helwan. Sepertinya menarik.” (redaksi gubahan) Sumpah mimiknya benar benar antusias, dan itu menjadi sesuatu yang lucu karena seorang senior kami kemudian menimpali.
“ Ah, hadiqoh yaban itu.” Dan
Grrrhhh, kamipun tertawa. Semuanya sudah tahu jika di Helwan ada hadiqoh meski belum semuanya kesana. Tapi kalimat taman bercita rasa jepang seolah mengabarkan sebuah taman nan indah lagi megah dengan semua hal berbau jepang disana. Padahal hadiqoh ya gitu gitu aja. Terkadang, tulisan mampu membuat sesuatu menjadi jauh lebih mempesona.
Kembali ke taman, lumayan. Banyak hal berbeda yang kita temukan disana yang tak ada di hadiqoh lain. Kolam kecil dengan kapal kapalan diatasnya, patung Budha, bangunan tempat berteduh dengan atap khas asia, bunga-bunga yang juga unik jenisnya dibandingkan kebanyakan bunga di Kairo, dan banyak lagi. Akhirnya aku mengerti mengapa taman ini dinamakan Hadiqoh Yaban, dan mengapa penulis buku Tour Guide yang dibaca Azmi menulisnya sebagai taman bercita rasa jepang. Memang terasa berbeda.
Kami berempat menghabiskan waktu disana hingga sore menyapa. Dan perjalanan dilanjutkan ke China. Ya, kami mampir ke Buuts untuk santap siang di sore hari di warung makan China. Pokoknya, hari itu benar benar suasana asia. Mungkin asian day adalah tema yang tepat, haha.
Saturday, 19 March 2011
Euforia Malam Purnama

Sore tadi aku tak pernah menyangka malam ini akan begitu indah. Saat kubuka sahabat setiaku si della, page home facebook langsung menyapa seperti biasa. Beberapa post nampak menyela perhatianku. Orang-orang banyak membahas purnama. Oh, ternyata malam ini purnama terbesar dalam 18 tahun.
Ternyata ada satu kasus dimana astronomi dan astrologi tak sepakat soal purnama yang terletak di perigee (titik terdekat bulan dengan bumi) ini. Astrologi meramalkan kondisi “extreme super moon” ini akan berakibat bencana. Namun astronomi membantahnya.
Ah, apa peduliku dengan tetek bengek ilmiah diatas. Rembulan malam ini layaknya di malam malam lainnya. Tadi kusempat melongok keluar jendela, sekedar membuktikan ramalan orang. Ternyata sama saja, tak ada yang berbeda dengan rembulan. Masih bisu tanpa kata.
Kau tahu kawan, apa yang berbeda malam ini. Hanya sebuah kata. Sering kudengar dari ibu dulu. Ketika ibu membangunkanku dari tidur dengan lantunan lagu ciptaannya. Atau ketika ibu selesai mencukur rambutku. Kau tahu kata itu, ganteng.
Malam ini kata itu terasa lebih indah, karena kukembali mendengarnya setelah sekian lama tak mendengarnya. Aku hampir lupa mungkin makna kata itu jika tak mendengarnya malam ini. Karenanya, sebagai ucapan terimakasihku, boleh ya aku berkata: terimakasih cantik!.
Monday, 14 February 2011
Karena Aku Rajawali

Maaf jika mataku culas,
Aku hanya ingin melihat lebih jelas,
Agar tak ada kepalsuan terbias,
Hanya sebuah analisis.
Maaf jika aku menengadah congak,
Aku hanya ingin kepalaku tegak
Agar aku sedikit bijak,
Meski aku tak pernah tahu apa yang terjadi kelak.
Maaf jika aku hanya terdiam,
Aku hanya mencoba tuk merekam,
Baik buruk rahasia alam,
Kemudian mencoba paham.
Maaf jika aku terbang sendiri,
Rahasia hidupku haruslah tertutup rapi,
Dan sayapku harus terus mengepak lebih tinggi,
Dalam hangatnya sinar mentari
Maaf atas ketidaksempurnaan pribadi,
Karena aku Rajawali
Sunday, 13 February 2011
Siapa

Semerbak pagi menyengat hidung
Pesona bunga dengan ronanya mengepung
Ini masih pagi,
Matahari pun belum kokoh berdiri,
Lihatlah taman di sore hari,
Ongokan layu si anggun mawar,
Juga sayunya putih melati,
Semua terkulai karena sengat sang sinar
Ini tentang hidup,
Dan apa yang terakibatkan,
Janganlah picik membuatmu takjub,
Euforia sesaat yang menyesatkan,
Dirimu selalu punya berjuta alasan,
Untuk nanti bertanya,
Siapa?
Friday, 17 December 2010
wajah polosku dahulu kala

potretku saat kelas 3 KMI
sebenarnya ga ada niatan nampang poto imut gw disini, tapi begitu buka blognya orang bodoh raditya dika si kambing jantan, sumpah, gw terinspirasi banget. sempet-sempetnya dia nulis sampah di blognya dengan berkarung-karung goni kegiatan yang ada.
kembali ke foto imut, hehe, (kamu: narsis lu, aku: biarin :P). itu pose waktu kelas 3 KMI pake kaos rayon saudi satu lantai satu. Tahunnya, emm, 2005 klo ga salah.
Hari ini, jum'at 17 Desember 2010 di sekretariat IKPM cab kairo, selepas isya, hihi bertele-tele banget sih. intinya malam ini gw belajar sama Farid Abdullah, eh si Rifqi ikut nimbrung sambil gangguin. hfft, dapet juga 2 bab, tapi habis itu kepala langsung puyeng, aneh ni, biasanya biasa aja ko sekarang buat mikir dikit udah kelabakan ya, wuadoh.
udahan dulu ya, besok pagi mau ke jawazat, buat ngurus perpanjangan visa, janjian jam 6 sama farid. kalo telat traktir, ahahahah.
eh iya, salam buat malaikat, hehe.
Wednesday, 30 June 2010
Sunday, 27 June 2010
Eternal flat, STNK 201
I’ve waste away my time in fear, stupidly let my chance got disappeared. Even I knew it never comes twice, but my heart was frozen like ice, till the destiny come to remind me, even with pain which suffered me, and almost killed me. But thanks God for His pain, because self consciousness is something you couldn’t easily gain.
It was 2008 when I lived at STNK 201, the eternal flat last forever in my mind. It’s not sweet memories which keep it survives, but the lesson that comes after miserable disease. I was a kid back then, impetuous, frightened and a little even idiot. I was idiot with the lack of cleverness control. There’s no doubt in the absolution of my capability, I was only loosed with my worst enemy, its named fear.
I seem to be addicted to write this story; I never mean to blame anybody. I just want to tell how big its effect in remaking me, and how good it’s lesson in helping me to find who the real me is. I’m sincerely admitting that I never given such great unexplainable gift before this.
Since the day of staff reshuffle, exactly when some of ordinary staff are being moved, and come into our office the new staff from intensive class, the gloom is seemed to be surrounding our office. Actually I ever had a big hope to them (intensive) because of their capability. It’s well known that’s they have better skill in language than us even we’ve spent our several last months in the office of language improvement. But the fact speaks other.
I’m disappointed of their disagreement with the decision to be hated, as their new consequences of being this office staff. They never stop trying to find the way to get out of this humbly office. And in spite of doing the best while waiting the new destiny, they manipulate the reasons just to leave this responsibility.
I might be the worst person burdened with these, because I was the chief of this number of various creatures. Although I was the vice chief, but I guess the first chief was always busy with his first priority: thinking his pie trouble, until has not enough time to solve even the small progress we ever made.
Lompatan-lompatan besar dalam hidupku
Mungkin dimasa kecilku aku hafal bahwa ibukota Qatar adalah Doha dan ibukota Mesir adalah Kairo, akupun mungkin bisa menyebutkan satu-persatu dengan lancar ibukota negara-negara dunia. Namun hanya sebatas pengetahuan dengan sedikit prasangka bahwa suatu saat aku bisa menginjakkan kakiku disana.
Ternyata dunia itu luas kawan, dan ketika kakiku berpijak di tanah negara lain yang dulu hanya bisa kugambarkan dalam alam ideaku, akku menyadari bahwa usahaku untuk mengingat bahwa riyadh adalah ibukota arab saudi, dan kebingunganku tentang misplacing abu dhabi atau dubai yang merupakan ibukota uni emirat arablah yang mengantarkanku untuk menginjakkkan kaki disini. Ternyata langkah besar ituhanya dimulai dari rasa ingin tahuku. Hal itulah yang kumengerti sekarang.
Hari ini, selasa 25 may 2010. Di Doha International airport akumenulis ini. Pada saat pertama kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ada berabagai macam ras dimuka bumi ini, berbagai bahasa, pakaian, makanan aneh (karena lidahku tak juga bisa mengerti mengapa mereka bisa dengan lahabnya mnyantap makanan – makanan itu). Namun disini pula aku semakin mengerti bahwa aku tak akan berhenti hanya disini. Perjalanan hidupku masih panjang, dan masih banyak cerita yang bisa kau baca
Tuesday, 15 June 2010
Aku
aku hanya dilahirkan dengan sedikit rasa ingin tahu dan segenggam keyakinan akan kebenaran apa yang aku pikirkan, dan lakukan. Apakah ini egoisme atau semacamnya, tetapi semua itu jugalah yang telah mengantarkan ku hingga sejauh ini. itulah kenapa aku tak akan pernah rela melihat orang lain lebih baik dariku. Dan itulah yang akan terus kujaga selama hidupku,rasa keingintahuan dan keyakinan bahwa semua mimpiku akan terwujud.
Aku tak perlu semua impianku menjadi kenyataan, karena kinipun aku sudah bahagia menjalani hidup dengan keyakinan bahwa ini semua kan terbukti.
Aku adalah aku, biarlah orang mengatakan aku berlebihan,aku tak peduli. namun perlu dia tahu bahwa sesuatu yang besar takkan dimulai dengan sesuatu yang biasa-biasa saja dan ala kadarnya.
Tuesday, 8 June 2010
Semua bermula dari mimpi
Ketika aku harus terpaksa merantau ke tanah jawa untuk melanjutkan studyku, karena di desaku tak ada yang namanya smp, sltp, atau apapun namanya sekolah lanjutan setelah sd. Sekolah sltp terdekat berjarak krang lebih 30 km dari desaku, dengan jalanan 20 km masih berupa tanah. Sehingga apabila ada anak yang hendak meneruskan sekolahnya, ia harus ngekos di desa lain. Itulah alasan mengapa aku bisa terdampar di pondok modern darussalam gontor. Sebagian besar teman-teman laki-lakiku dan beberapa teman perempuanku harus takluk pada keadaan untuk bekerja di perkebunan sawit yang memang menjamur di daerahku, dan hatiku selalu miris ketika mendengar bahwa pemilik perkebunan-perkebunan besar itu adalah orang china atau malaysia. Bahkan, sebagian besar teman perempuanku bahkan hanya menunggu waktu untuk dipinang oleh pemuda desa, atau berharap ada bos dari luar desa yang datang melamar mereka untuk sedikit mengangkat derajat hidup mereka. Dan hanya sebagian sangat kecil dari meraka yang dapat melanjutkan pendidikan mereka dengan alasan klasik, yang juga tertulis dalam mahfudzat “ ad dirhamu”, ya karena terbentur masalah biaya. Sebagai catatan, dari 16 teman sdku angkatan tahun 2003, hanya 2 orang yang hingga kini masih bisa menikmati bangku pendidikan, aku dan seorang temanku yang kini menempuh pendidikan kedokteran di universitas bengkulu.
Kini, aku telah sampai disini, dan ini bukanlah akhir, baru permulaan dari terwujudnya mimpi-mimpiku. meskipun aku telah berjalan pada track visiku yang benar, semuanya bergantung juga pada kerja keras dan konsistensiku nantinya dalam usaha shaping my uncertain destiny.
“Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history.” ( Barrack obama)
Monday, 7 June 2010
Kebenaran Kita Kini
Dan kemutlakan dianggap abu-abu
Suara hati dilabeli egoisme
Jeritan nurani dicap irrasionalisme
Kepada apa kita bisa bersandar
Jika bukan pada nilai yang kini telah terlempar
Hukum kini bukanlah soal kualitas’
Tetapi merupakan otoritas kaum mayoritas
Kala suara menjadi tuhan
Para ulamapun dikesampingkan
Orang-orang bodoh seolah berjuang
Namun pemenang akhirnya adalah pemilik uang
Lekangkah olehmu kegigihan socrates
Menentang silat lidah kaum sofis
Meski harus mati meregang nyawa
Demi nilai yang absolut adanya
Meski dunia semakin membingungkan
Semuanya pasti kan terpecahikan
Tanya saja pada hatimu
Karena ia takkan dustai dirimu

