Pages

Wednesday, 8 January 2014

Kangen

Terus terang, saya kangen menulis seperti ini. Ya, menulis apa adanya, sebenar-benar apa yang ada dalam kepala Kurniawan Saputra. Tanpa terlebih dahulu berpikir panjang mengenai diksi, data, teori, metafor dan bangunan logika tulisan. Beginilah saya dulu, sebelum saya terlanjur tercebur dunia “literature”. Saya teringat rupa lama saya ini ketika tanpa sengaja mampir ke blog teman. Tulisannya mengingatkan saya bahwa pada suatu saat di masa lalu, saya pernah begitu lugu. Dan kepolosan selalu membawa serta ketulusan dan kejujuran yang ngangenin. Tiba-tiba kerinduan kepada diri sendiri menyembul-sembul seperti air mendidih, tak bisa diredam. Saya sudah berbeda sekarang, bukan orang lain memang, bahkan mungkin inilah sosok yang saya damba tempo hari. Tetapi tetap saja, masa lalu yang ingin selalu kita lupakan itu, punya daya tarik yang memaksa kita setidaknya untuk menengoknya kembali. Mengenai perubahan, saya sadar ini adalah keniscayaan. Perubahan adalah bukti paling sederhana bahwa kita manusia. Tapi toh, tak ada salahnya kan merindukan masa lalu? Terutama jika itu membuat kita tersenyum.

Monday, 19 August 2013

Plot itu bernama Isco

“Saya akan bercerita tentang Real Madrid musim ini,” kata Mochtar Lubis malam itu kala saya baru saja usai menyaksikan pertandingan perdana Real Madrid. Karena Mochtar hanya datang di alam khayal, maka sayalah yang akan menceritakan kepadamu. *** Barangkali, Real Madrid musim ini akan menjadi semacam Harimau-Harimau Mochtar Lubis. Pembukaan yang datar, dan tentunya mengecewakan bagi mereka yang mengharapkan penampilan fantastis dari skuad si putih. Seperti narasi awal pada novel para pencari damar di atas. Di saat Barcelona membuka plot musim ini dengan sangat teknis, pembukaan yang heboh –kemenangan telak 7-0-, Real Madrid terlihat masih belum beranjak dari kesalahan-kesalahan di laga musim lalu, kecolongan gol mudah. Perihal lain yang cukup mengecewakan adalah bahwa Ancelotti seperti tak beda dengan Mourinho. Di bawah mistar, ia menaruh Diego Lopez. San Iker dibiarkan kecewa di bench. Dalam hal ini, saya termasuk orang yang keputusan bawaan Mourinho. Tapi, bagi orang-orang yang melihat Madrid lebih dari klub sepakbola, yang ingin melihat pemain akademinya jadi kapten tim bertabur bintang ini, yang membawa-bawa sensitifitas castilla-catalan, perkara ini tentu mengecewakan. Ancelotti juga nampak belum bisa mencari solusi masalah musim lalu, kesulitan mencetak gol justru saat bermain menyerang. Penguasaan bola yang dominan seperti makanan enak kadaluarsa, tak efektif. Benzema belum bisa menjadi jawaban di saat Ronaldo banyak sial. Dan masalah ini, kecerobohan bek, masih mewarnai lini belakang meski Arbeloa, yang saya anggap titik lemah, sudah diganti dengan Carvajal. Nah, jika Anda sudah membaca Harimau-Harimau, kalian tentu akan melupakan pembukaan datar di awal setelah menemukan plot yang mengejan-kejan, hehe. Seperti itu juga tulisan ini, sebagai seorang Madridista yang selalu berpikiran positif, saya selalu melihat bright side dari penampilan Madrid. Jika Anda saksikan kemarin, Madrid sudah berbeda dengan tahun lalu. Penguasaan bola mencapai 62 persen. Biasanya, Madrid mendapat presentase sebesar itu jika sedang main bagus (menang telak). Jika seri atau menang tipis, possession ball lebih sering imbang –di beberapa pertandingan kalah- dengan tim lawan. Ini memang yang dimau Ancelotti. Saya tidak tahu pasti apa yang dimaksud dengan permainan menyerang yang ia utarakan dalam presentasi pelatih, namun, melihat kualitas individu pemain Real, lebih banyak menguasai bola dengan kemungkinan pertunjukan skill yang lebih banyak adalah perihal gampang untuk dimengerti. Kerentanan lini belakang, saya kira tak akan terjadi jika Varane sudah hadir. Semalam Pepe gagal membuktikan kenapa ia tak pantas disingkirkan musim lalu, perkara yang akhirnya membuat aliansi dia dengan pelatih Portugalnya, berbalik menjadi konflik. Carvajal hanya butuh satu dua pertandingan untuk klop. Sebuah catatan, tahun lalu anak muda ini adalah bek kanan terbaik liga Jerman versi Goal.com. Marcelo kembali ke penampilan terbaiknya usai cedera, dia adalah salah satu bek kanan terbaik di dunia. Dan Ramos, ah, taka da yang perlu dikhawatirkan jika ia kelak bersanding dengan Varane. Yang menjadi plot cerita ini, seperti ketegangan yang menggerus-gerus hati dalam Harimau-Harimau, adalah pria tampan bernama Isco. Dalam pertandingan semalam, dia seolah mengabarkan pada dunia bahwa dia adalah sintesa atas dialektika Madridnya Ancelotti. Isco mampu menjelajah kemana-mana, menghubungkan Khedira, Modric dengan Ozil, Benzema dan Ronaldo, menguasai lahan antara lini belakang dan depan. Musim lalu, lahan ini kosong, Ozil kelelahan jika harus menjemput bola dari belakang. Walhasil, strategi Mou adalah langsung mengalirkan bola ke depan lewat umpan-umpan jauh Xabi. Malam tadi, umpan-umpan Isco begitu elegan, seperti pesan moral usai konflik batin yang dimunculkan Mochtar dalam novelnya. Yang terakhir, malam itu Isco menerangkan bahwa sekarang Real Madrid punya solusi jika Ronaldo mati kutu, ia mencetak gol. Akhirnya, cerita ini diakhiri dengan sebuah kelegaan bernama Francisco Román Alarcón Suárez. Seperti kelegaan lakon Harimau-Harimau bernama Buyung lepas selamat dari prahara yang meneror fisik dan batinnya. Malam tadi, Madridista bernafas lega atas Isco.

Saturday, 13 April 2013

Iman dan Islam


Akhir-akhir ini saya menjadi lebih sering takut. Takut berbicara, takut menulis, takut mengungkapkan kreatifitas. Di satu sisi, saya beryukur karena itu berarti kurang lebih saya belajar tentang tanggungjawab, tentang ilmu yang tidak bisa sembarang diungkapkan. Ada sebuah ungkapan anonim mengatakan: most of problems in life come becauseof two reasons: first, we act without thinking, or the second, we keep thinking without acting. Belakangan pula, saya sedikit banyak mulai berdamai dengan realita. Saya mulai tuliskan ide dalam bentuk bangunan. Pondasinya dari bahan-bahan ilmiah para pendahulu, kerangkanya berbentuk desain-desain epistemologis klasik. Saya belajar untuk mencampur adonan bahan bangunan dengan takaran yang sudah ditentukan. Juga hati-hati kuikuti cara-cara menyambung pasak, mengukur kedataran lantai, dan lain-lain. Saya patuh pada tuntutan sistematika. Tapi saya tidak menyerahkan seluruhnya pada sistem. Ada beberapa hal yang saya biarkan berkeliaran, mencari bentuknya sendiri. Kalaupun benar kata sebagian orang bahwa kehidupan di dunia ini tersusun dalam pola-pola, maka ada satu keniscayaan dari pendapat tersebut: bahwa pengetahuan manusia akan pola-pola itu sempit, partial dan terbatas. Sistem-sistem tersebut, betapapun terlihat sempurnanya, mempunyai celah, dan dalam celah-celah itu rahmat Tuhan dituangkan melimpah ruah. Kehidupan, menurut Hegel, adalah sebuah hubungan timbal balik. Kausa mengundang antitesa, lalu muncullah sintesa. Dewasa ini, kajian tentang mekanika kuantum semakin menyempurna. Teori ini mengatakan bahwasanya mekanisme kehidupan ini lebih mudah diterjemahkan sebagai sebuah keteraturan yang acak, randomness. Penjelasan sederhananya teori ini adalah bagaimana memahami wanita, bukankah wanita sangat tidak tertebak? Tapi, tanpa teori fisika kuntum,seorang muslim seyogyanya menjadi seorang yang penuh optimisme. Dalam salah satu hadis dikatakan bahwa kasih sayang Allah SWT tersebar dimana-mana, meliputi langit dan bumi. Keyakinan akan kasih sayang AllahSWT ini adalah sisi agresif dari akidah umat Islam. Dari sana manusia bertolak mengerjakan segala urusan dengan energi positif, karena mereka percaya dimana-mana ada rahmat Tuhan. Sementara itu bagian defensifnya adalah nama agama itu sendiri, Islam. Seorang orientalis, Huston Smith mengatakan bahwa tenaga pendorong umat Islam untuk menggarap masalah duniawi dengan kesungguhan luar biasa diperoleh karena umat Islam menyerahkan diri secara total kepada kehendak Ilahi. Sikap seperti itu di khazanah Barat disebut nothing to loose, tak ada yang perlu dikhawatirkan dari kekalahan. Formula dari dua sikap di atas, keyakinan atas rahmat Tuhan dan sikap penyerahan total atas hasil akhir adalah kekuatan dahsyat. Jika diibaratkan dengan strategi sepakbola, dua unsur itu sama-sama punya kekuatan agresif dan defensif yang saling mendukung, dan yang paling penting dari semua itu, seperti kata Mourinho mengenai rumus kemenangan, seimbang. Formula itu mari kita namakan iman saja, berdasarkan pengertian etimologinya, keyakinan. Keyakinan akan dua hal yang saling terkait, dan pengaruh-mempengaruhi. Karena alasan itu, juga untuk sebuah alasan yang tak terdefenisikan –karena subyektif-, saya antipatik dengan ungkapan anonim di atas. Kata-kata Betrand Russel berikut lebih saya setujui: “The whole problem with the world is that fools and fanatics are always so certain of themselves, but wiser men so full of doubts.” Masalah di dunia ini adalah bahwa orang-orang bodoh dan fanatik selalu yakin dengan diri mereka, sementara orang bijak justru tak lekang dirundung ragu.” Saya suka ungkapan ini terutama karena mirip dengan bagaimana konsep iman dan tak beriman begitu determinan dalam Islam.

Thursday, 11 April 2013

Mimpi

Malam ini, Sebelum benar-benar bermimpi, Kita awali dengan khayalan tinggi Tentang kerjapan lucu mata anak kita di pagi hari Dandanan mereka baju warna-warni Ibunya tersenyum menuntun di sisi kiri, Wajahnya berseri, lesung pipinya menentramkan hati Rumah kita besar nan permai Cerobong asapnya menjulang tinggi Di halaman ada taman berpagar semak melati Mari, Kawan! kita jemput mimpi-mimpi Dengan lekas melelapkan diri Untuk kerja keras lagi esok hari Jangan sampai kesiangan lagi Oia, jangan lupa juga lantunkan doa selamat Agar Tuhan menjaga tidur kita dengan mengirimkan malaikat.

Monday, 8 April 2013

Sniper

Sekali lagi, kekaguman terhadap makhluk aneh menderap. Pelan saja, tapi konstan. Ia berdentum-dentum teratur seperti bunyi drum di lagu Coldplay, indah. Tapi ini bukan irama istimewa. Aku sudah terlalu sering menakjubi banyak sekali individu dari manusia venus itu. Bahkan untuk seorang yang sok idealis sepertiku, radar sebagai laki-laki masih terlalu aktif. Kali ini, kekaguman itu disebabkan oleh perkara yang lebih masuk akal: sebuah pesona yang terpancar dari leburan wawasan dan keteguhan pribadi, serta yang paling memesona kriteriaku adalah selalu: kesederhanaan sikap. Kuberi tahu, aku tak melulu terpikat dengan keindahan internal, seringkali –dan tak bisa kupungkiri- pesona-pesona fisik menjadi alasan untuk memperhatikan seseorang lebih jauh. Tapi, seperti biasa, kekaguman ini kembali terbentur benteng kokoh yang kubangun sendiri. Anda boleh menyebutnya gengsi, arogansi, atau apalah, dan aku tak akan membela diri dari stigma negatif tersebut. Aku sadar, sepenuhnya, sikap ini akan menyulitkan, terutama yang bernilai tampang minus sepertiku, hehe. Namun, aku tak mau tahu, benteng yang kubangun dengan susah payah ini harus tetap berdiri kokoh, tinggi, menjulang, dan tak tergoyahkan. Benteng ini harus menjadi pertahanan pertama ketika naluri-naluri alamiah manusia menyerbu. Kalau tidak, aku tak mau bertaruh untuk bertarung. Aku tak sekuat Archilless yang kebal kecuali di bagian tumit. Kelemahanku ada dimana-mana. Maka, kuberi tahu cara main aman Taruh diri Anda dalam posisi setinggi mungkin, dari sana Anda bisa lebih mudah memperhatikan obyek, lebih aman, meski Anda akan luput dari perhatian. Sederhana saja, ini strategi sniper. Ketika saatnya tiba, Anda hanya perlu menarik pelatuk.

Friday, 8 March 2013

Tuli dan Budeg

Malam tenang,seperti malam-malam biasanya di rumah atap ini. Semilir angin musim panas mulai berhembus, menyela sisa-sisa dingin yang tertinggal. Tapi, ini bukan pembukaan cerpen. Jadi, mari kita hentikan kata-kata mendayu ini. "Bro, apa bedanya tuli dengan budeg?" tanya Arif yang sedang sibuk menulis makalah. "Bukannya sama aja?" Tanya Fauzul/Lukman menjawab pertanyaan. "Sama aja deh kayaknya." Jawab Lukman/Fauzul. "Kalau tuli itu nggak bisa mendengar," teriakku dari dapur. Arif tertarik mendengar kelanjutannya, "Terus kalau budeg apa, dong?" "kalau budeg itu ente!!!" jawabku. Grrrhhh, riuh rendahpun sejenak pengusir sunyi di rumahku.

Tuesday, 29 May 2012

The Ultimate Me

Kangen rasanya menulis seperti ini, lepas dan bebas tanpa target. Juga tanpa terkekang koridor-koridor macam deadline, subtansi, narasi, dan semua tetek bengek itu. Barangkali semua itu telah menaikkan derajat kualitas tulisanku. Namun ada kalanya menulis secara teratur adalah membosankan. Kali ini aku ingin sedikit narsis, hehe (soalnya udah lama nggak narsis, wkwk). Beberapa waktu yang lalu lagi-lagi sebuah perjumpaan dengan teman lama menginspirasiku. Kali ini bukan berupa motivasi seperti yang biasanya aku tulis di note-note facebook. Lebih sederhana meski tetap mengandung pelajaran. Kawanku itu, Arif namanya, mengatakan sesuatu yang membuatku terenyuh dan sedikit geer, hehe. “Kamu sudah jauh lebih baik sekarang, bukan kamu yang dulu lagi.” Sejenak pikiranku menerawang, mencoba mencari perbedaan dari aku (dulu) dengan aku (sekarang). Dan, hehe, jika perbandingannya adalah antara Kurniawan sekarang dengan Kurniawan CLI yang dia kenal, tentu saja ada perbedaan besar. Kurniawan sekarang sudah berjenggot, kumisnya mulai tebal, punya banyak penggemar rahasia (meski tetap jomblo, hahaha). Mungkin satu-satunya persamaan yang bisa dikenali teman-teman lamaku adalah tahi lalat di atas bibir serta perawakan yang masih konsisten kurus (huadoh, gemuk dong pleeaaassseee). Tapi, tentu saja bukan itu yang dia maksud. Perubahan fisik yang merupakan keniscayaan tentunya tak akan terlalu menarik perhatiannya, aku tahu yang dia maksud lebih menjurus pada perubahan emosional. Well, aku sendiri sebenarnya bingung bagaimana bisa aku menjadi seseorang yang jauh berbeda dengan kepribadianku dulu. Puji Tuhan. Yah, semenjak raising from the death, ruhku seperti bukan manusia, (haha, asli yang ini lebai, tapi aku coba mencari padanan kata yang lebih simple, tapi bingung). Capek uey, mau belajar lagi bis ini, kapan-kapan lagi yah.

Friday, 11 May 2012

Mencintai Bayangan

Bahkan saat pertama kali bertatap, kita sudah tersentak dengan adanya "aku" lain di alam nyata. Anehnya, "aku" yang satu ini berbeda bentuk, walaupun sangat similar. Dan sejak saat itu, kita bersusah payah mengelak adanya sosok yang 90% refleksi diri kita, meski dalam bungkus yang lain versi. Kita saling menahan diri untuk tidak mengungkapkan kekaguman secara gamblang, serta lucunya saling menertawai kekurangan yang sebenarnya adalah nilai minus pribadi kita sendiri. “Eh Son, coba kamu gemukan dikit ya…” (dengan sisa kalimat yang tertahan di ujung lidah, mungkin lidahnya tiba-tiba kelu) Kata kamu untukku, aku hanya bisa tersenyum sambil mbatin, “Oh Tuhan, harus makan berapa banyak lagi supaya gemuk.” Hahaha… Akupun pernah berujar, “Dasar item!” dan kamupun hanya tertawa. Tahu nggak, waktu aku ngomong begitu keningku mengernyit, dan mataku menyipit sedikit melihat kulitku, hahaha. Tapi, perjalanan kita selanjutnya bukan di sirkuit yang hanya tinggal mengatur gigi persneling dan speed, sedikit fokus pada pedal rem saat belokan, lalu meluncur nyaman hingga garis finis. Kisah kita adalah petualangan di jalan raya, kita terpisah karena lampu merah, semakin berjarak ketika kau mengambil belokan kiri sementara aku pecah ban, dan aku sepertinya tak mungkin lagi berjalan beriringan karena mobil-mobil mewah telah mengerubungimu. Haha, mungkin kita terlalu logis bahkan untuk sisi manusia yang sulit dijabarkan oleh teori, perasaan. Tetapi, ada kalanya kita harus mengaku kalah pada takdir yang berkata “kita ditakdirkan bersama”. Terlepas dari pelbagai perbedaan yang kita sepakati secara tidak resmi menjadi tembok pemisah antara kita, ada kenyataan yang lebih sederhana bahwa ternyata kita begitu identic. Bahkan dari hal yang paling sepele, sesuatu yang tak dianggap oleh Sharkespearse, “apalah arti sebuah…” Ya, nama. Dan, mungkin ini jalan pembuka takdir, kita selalu menjadi saksi atas ketegaran yang lainnya dalam menghadapi kekejaman cinta. Serta perlahan-lahan mulai mafhum bahwa “dirimu” adalah orang yang mengagumkan dengan ketegaran menghadapi semua problema itu. Pada akhirnya, kita tidak bisa menolak kenyataan bahwa “kamu” adalah orang yang pantas “untukku”. Tidak sempurna memang, tapi sepertinya kebersamaan kita adalah sebuah keniscayaan. Loving the reflection of me, it is you.

Tuesday, 10 January 2012

Terbang

Hanya kata-kata yang bisa mewakili semuanya, mengantarkan kepergiannya. Aku biarkan waktu membawanya terbang, dan tak akan kembali.
Biar ia mengutas senyum bersama hidupnya yang baru, dan aku kembali menggeluti mimpiku, menghabiskan malam-malamku bersama teman lamaku yang paling setia, tuts tuts key board ini. Suatu saat ia akan tahu, sepenuhnya diriku. Karena dia pasti membacanya. Dan karena aku tak benar-benar pergi darinya, aku hanya pergi dari kenyataannya. Aku akan menjadi fatamorgana yang nyata namun tak bisa lagi disentuh, karena aku telah mengudara.
Aku masih ingin mendengarkan kata itu, tapi untuk saat ini adalah lebih baik bagiku untuk tidak mendengarnya. Mungkin juga untuk selamanya.
Nanti, kau akan tahu sobat. Aku hanya menginginkan yang terbaik untukmu. Tapi, sekali lagi ini menurutku. Dan jika “yang terbaik” itu bukanlah sesuatu yang engkau anggap baik, tentu saja aku mempersilakanmu atas semua keputusanmu. Dan karena aku juga punya pilihan. Biarlah gengsi masing masing dari kita menghancurkan rasa kita yang terdalam. Lalu, mari kita nikmati bagaimana rasanya?
Sesalkah? Sekarang belum bisa kita terka bagaimana nasibnya.
Semoga Tuhan memberimu kesempatan, untuk mencicipi rasanya bersaing denganku, menjadi rivalku. Dan aku akan sangat tertantang, jika kau bisa mengalahkanku. Karena dengan begitu, aku akan mengejarmu dan balik mengalahkanmu.

Wednesday, 13 April 2011

Travelling ke Japanese Garden


Rasa suntuk akhir akhir ini membuat minatku untuk jalan-jalan guna melepas penat membuncah. Masih tak tahu harus pergi kemana dan bersama siapa hingga senin malam Fenti menelponku untuk makan malam di Basmalah. Dan disana Agus mengajak kita untuk travelling. Sebelumnya aku memang pernah berjanji mengajak mereka ke Hadiqoh Yaban (Japanese Garden atau taman bernuansa Jepang di Kairo).

Akhirnya, selasa 12 April 2011 kami berempat (aku, Agus, Fenti, dan Jhonaidi) berangkat ke Hadiqoh Yaban di Helwan. Sebelumnya aku sempat ragu, karena belum sekalipun aku kesana, bahkan tanah Helwanpun belum barang sekali kutapak. Namun sepertinya kami memang harus pergi, Agus bilang Fenti sedang butuh hiburan. Dia tampak bête berat belakangan, kebetulan akupun sama. Ok, let’s go.

Naik metro alias kereta api, kami sempat salah turun di stasiun Hadayek Helwan, aku kira tamannya di sekitar stasiun itu. Cz namanya aja Hadayek yang artinya taman taman. Logikakupun memahami bahwa sang taman bertempat tinggal tak jauh dari situ. Dan ternyata kesimpulan tanpa premis penguat bernama pengalaman itu salah. Masih 3-4 stasiun lagi boy.

Akhirnya kembali masuk kereta dan turun di stasiun paling ujung, Mahathah Helwan. Berpose sejenak di depan stasiun. Kamipun merasa menjadi turis ketika melangkah keluar stasiun. Maklumlah, di kawasan ini masih jarang orang asing. Wajar jika mereka takjub menyaksikan manusia-manusia yang tak sejenis dengan mereka, haha. Yang berambut lurus, berkuliat sawo matang, dan berpostur lebih kecil

“Inta Shini wala Yabani?” (kamu orang china atau jepang)

Pertanyaan klasik bagi orang asia seperti kami. Mereka pasti mengira kita adalah anak cucu bangsa ras kuning. Padahal kulit kami (kulitku khususnya yang jauh dari warna cerah, haha) tak terlalu terang dan mata kami tak terlalu sipit. Namun mereka memang kesulitan membedakan orang orang asia timur.

Tak jarang pula anak anak kecil memandangi kami dengan raut muka heran, atau sekelompok anak anak yang berteriak mengelilingi kami dengan berteriak:

“Shini, Shini!” (Orang china, orang china)

Ya, walaupun hipotesa mereka salah, namun kami bahagia karena sudah berjasa membuat mereka riang dan girang. Serta sedikit bangga karena diperlakukan bak artis, haha. Risih juga sih kadang karena tak bisa bergerak bebas. Rupanya begini rasanya jadi artis, haha.

Akhirnya sampai juga kami di taman bercita rasa jepang. Haha, aku selalu tergelitik mengingat kalimat taman bercita rasa jepang. Belum lama ini Azmi, teman sekamarku menjelaskan kepadaku dengan antusiasme yang luar biasa.

“ Woi, denger deh! Ada taman bercita rasa jepang di Helwan. Sepertinya menarik.” (redaksi gubahan) Sumpah mimiknya benar benar antusias, dan itu menjadi sesuatu yang lucu karena seorang senior kami kemudian menimpali.

“ Ah, hadiqoh yaban itu.” Dan

Grrrhhh, kamipun tertawa. Semuanya sudah tahu jika di Helwan ada hadiqoh meski belum semuanya kesana. Tapi kalimat taman bercita rasa jepang seolah mengabarkan sebuah taman nan indah lagi megah dengan semua hal berbau jepang disana. Padahal hadiqoh ya gitu gitu aja. Terkadang, tulisan mampu membuat sesuatu menjadi jauh lebih mempesona.

Kembali ke taman, lumayan. Banyak hal berbeda yang kita temukan disana yang tak ada di hadiqoh lain. Kolam kecil dengan kapal kapalan diatasnya, patung Budha, bangunan tempat berteduh dengan atap khas asia, bunga-bunga yang juga unik jenisnya dibandingkan kebanyakan bunga di Kairo, dan banyak lagi. Akhirnya aku mengerti mengapa taman ini dinamakan Hadiqoh Yaban, dan mengapa penulis buku Tour Guide yang dibaca Azmi menulisnya sebagai taman bercita rasa jepang. Memang terasa berbeda.

Kami berempat menghabiskan waktu disana hingga sore menyapa. Dan perjalanan dilanjutkan ke China. Ya, kami mampir ke Buuts untuk santap siang di sore hari di warung makan China. Pokoknya, hari itu benar benar suasana asia. Mungkin asian day adalah tema yang tepat, haha.

Saturday, 19 March 2011

Euforia Malam Purnama


Sore tadi aku tak pernah menyangka malam ini akan begitu indah. Saat kubuka sahabat setiaku si della, page home facebook langsung menyapa seperti biasa. Beberapa post nampak menyela perhatianku. Orang-orang banyak membahas purnama. Oh, ternyata malam ini purnama terbesar dalam 18 tahun.
Ternyata ada satu kasus dimana astronomi dan astrologi tak sepakat soal purnama yang terletak di perigee (titik terdekat bulan dengan bumi) ini. Astrologi meramalkan kondisi “extreme super moon” ini akan berakibat bencana. Namun astronomi membantahnya.
Ah, apa peduliku dengan tetek bengek ilmiah diatas. Rembulan malam ini layaknya di malam malam lainnya. Tadi kusempat melongok keluar jendela, sekedar membuktikan ramalan orang. Ternyata sama saja, tak ada yang berbeda dengan rembulan. Masih bisu tanpa kata.
Kau tahu kawan, apa yang berbeda malam ini. Hanya sebuah kata. Sering kudengar dari ibu dulu. Ketika ibu membangunkanku dari tidur dengan lantunan lagu ciptaannya. Atau ketika ibu selesai mencukur rambutku. Kau tahu kata itu, ganteng.
Malam ini kata itu terasa lebih indah, karena kukembali mendengarnya setelah sekian lama tak mendengarnya. Aku hampir lupa mungkin makna kata itu jika tak mendengarnya malam ini. Karenanya, sebagai ucapan terimakasihku, boleh ya aku berkata: terimakasih cantik!.

Monday, 14 February 2011

Karena Aku Rajawali


Maaf jika mataku culas,
Aku hanya ingin melihat lebih jelas,
Agar tak ada kepalsuan terbias,
Hanya sebuah analisis.

Maaf jika aku menengadah congak,
Aku hanya ingin kepalaku tegak
Agar aku sedikit bijak,
Meski aku tak pernah tahu apa yang terjadi kelak.

Maaf jika aku hanya terdiam,
Aku hanya mencoba tuk merekam,
Baik buruk rahasia alam,
Kemudian mencoba paham.

Maaf jika aku terbang sendiri,
Rahasia hidupku haruslah tertutup rapi,
Dan sayapku harus terus mengepak lebih tinggi,
Dalam hangatnya sinar mentari

Maaf atas ketidaksempurnaan pribadi,
Karena aku Rajawali

Sunday, 13 February 2011

Siapa


Semerbak pagi menyengat hidung
Pesona bunga dengan ronanya mengepung
Ini masih pagi,
Matahari pun belum kokoh berdiri,

Lihatlah taman di sore hari,
Ongokan layu si anggun mawar,
Juga sayunya putih melati,
Semua terkulai karena sengat sang sinar

Ini tentang hidup,
Dan apa yang terakibatkan,
Janganlah picik membuatmu takjub,
Euforia sesaat yang menyesatkan,

Dirimu selalu punya berjuta alasan,
Untuk nanti bertanya,
Siapa?

Friday, 17 December 2010

wajah polosku dahulu kala


potretku saat kelas 3 KMI

sebenarnya ga ada niatan nampang poto imut gw disini, tapi begitu buka blognya orang bodoh raditya dika si kambing jantan, sumpah, gw terinspirasi banget. sempet-sempetnya dia nulis sampah di blognya dengan berkarung-karung goni kegiatan yang ada.
kembali ke foto imut, hehe, (kamu: narsis lu, aku: biarin :P). itu pose waktu kelas 3 KMI pake kaos rayon saudi satu lantai satu. Tahunnya, emm, 2005 klo ga salah.
Hari ini, jum'at 17 Desember 2010 di sekretariat IKPM cab kairo, selepas isya, hihi bertele-tele banget sih. intinya malam ini gw belajar sama Farid Abdullah, eh si Rifqi ikut nimbrung sambil gangguin. hfft, dapet juga 2 bab, tapi habis itu kepala langsung puyeng, aneh ni, biasanya biasa aja ko sekarang buat mikir dikit udah kelabakan ya, wuadoh.
udahan dulu ya, besok pagi mau ke jawazat, buat ngurus perpanjangan visa, janjian jam 6 sama farid. kalo telat traktir, ahahahah.
eh iya, salam buat malaikat, hehe.

Wednesday, 30 June 2010

Meskipun para pemimpin yang merubah dunia, tetapi para filosoflah yang membentuknya.

Sunday, 27 June 2010

Eternal flat, STNK 201

I’ve waste away my time in fear, stupidly let my chance got disappeared. Even I knew it never comes twice, but my heart was frozen like ice, till the destiny come to remind me, even with pain which suffered me, and almost killed me. But thanks God for His pain, because self consciousness is something you couldn’t easily gain.

It was 2008 when I lived at STNK 201, the eternal flat last forever in my mind. It’s not sweet memories which keep it survives, but the lesson that comes after miserable disease. I was a kid back then, impetuous, frightened and a little even idiot. I was idiot with the lack of cleverness control. There’s no doubt in the absolution of my capability, I was only loosed with my worst enemy, its named fear.

I seem to be addicted to write this story; I never mean to blame anybody. I just want to tell how big its effect in remaking me, and how good it’s lesson in helping me to find who the real me is. I’m sincerely admitting that I never given such great unexplainable gift before this.

Since the day of staff reshuffle, exactly when some of ordinary staff are being moved, and come into our office the new staff from intensive class, the gloom is seemed to be surrounding our office. Actually I ever had a big hope to them (intensive) because of their capability. It’s well known that’s they have better skill in language than us even we’ve spent our several last months in the office of language improvement. But the fact speaks other.

I’m disappointed of their disagreement with the decision to be hated, as their new consequences of being this office staff. They never stop trying to find the way to get out of this humbly office. And in spite of doing the best while waiting the new destiny, they manipulate the reasons just to leave this responsibility.

I might be the worst person burdened with these, because I was the chief of this number of various creatures. Although I was the vice chief, but I guess the first chief was always busy with his first priority: thinking his pie trouble, until has not enough time to solve even the small progress we ever made.

Lompatan-lompatan besar dalam hidupku

Mungkin dimasa kecilku aku hafal bahwa ibukota Qatar adalah Doha dan ibukota Mesir adalah Kairo, akupun mungkin bisa menyebutkan satu-persatu dengan lancar ibukota negara-negara dunia. Namun hanya sebatas pengetahuan dengan sedikit prasangka bahwa suatu saat aku bisa menginjakkan kakiku disana.

Ternyata dunia itu luas kawan, dan ketika kakiku berpijak di tanah negara lain yang dulu hanya bisa kugambarkan dalam alam ideaku, akku menyadari bahwa usahaku untuk mengingat bahwa riyadh adalah ibukota arab saudi, dan kebingunganku tentang misplacing abu dhabi atau dubai yang merupakan ibukota uni emirat arablah yang mengantarkanku untuk menginjakkkan kaki disini. Ternyata langkah besar ituhanya dimulai dari rasa ingin tahuku. Hal itulah yang kumengerti sekarang.

Hari ini, selasa 25 may 2010. Di Doha International airport akumenulis ini. Pada saat pertama kalinya aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bahwa ada berabagai macam ras dimuka bumi ini, berbagai bahasa, pakaian, makanan aneh (karena lidahku tak juga bisa mengerti mengapa mereka bisa dengan lahabnya mnyantap makanan – makanan itu). Namun disini pula aku semakin mengerti bahwa aku tak akan berhenti hanya disini. Perjalanan hidupku masih panjang, dan masih banyak cerita yang bisa kau baca

Tuesday, 15 June 2010

Aku

Aku tak pernah memiliki kekuatan yang begitu besarnya, kecerdasan yang begitu cemerlangnya, pengetahuan yang begitu luasnya, atau semua yang serba sempurna.
aku hanya dilahirkan dengan sedikit rasa ingin tahu dan segenggam keyakinan akan kebenaran apa yang aku pikirkan, dan lakukan. Apakah ini egoisme atau semacamnya, tetapi semua itu jugalah yang telah mengantarkan ku hingga sejauh ini. itulah kenapa aku tak akan pernah rela melihat orang lain lebih baik dariku. Dan itulah yang akan terus kujaga selama hidupku,rasa keingintahuan dan keyakinan bahwa semua mimpiku akan terwujud.
Aku tak perlu semua impianku menjadi kenyataan, karena kinipun aku sudah bahagia menjalani hidup dengan keyakinan bahwa ini semua kan terbukti.
Aku adalah aku, biarlah orang mengatakan aku berlebihan,aku tak peduli. namun perlu dia tahu bahwa sesuatu yang besar takkan dimulai dengan sesuatu yang biasa-biasa saja dan ala kadarnya.

Tuesday, 8 June 2010

Semua bermula dari mimpi

Mengenang masa kecilku, rasanya tidak ada orang yang berfikir seorang anak dari desa terpencil dipinggir hutan sepertiku akan bisa menapakkan kaki di negri orang. Dulu aku memang tahu di dunia ini ada negara bernama mesir, dengan kairo sebagai ibukotanya, namun itu hannyalah formalitas pelajaran ips yang mengharuskanku menghafalnya sebelum ujian.semua ini berawal dari mimpi, diperjelas dengan Visi dan dipermudah dengan keyakinan.

Ketika aku harus terpaksa merantau ke tanah jawa untuk melanjutkan studyku, karena di desaku tak ada yang namanya smp, sltp, atau apapun namanya sekolah lanjutan setelah sd. Sekolah sltp terdekat berjarak krang lebih 30 km dari desaku, dengan jalanan 20 km masih berupa tanah. Sehingga apabila ada anak yang hendak meneruskan sekolahnya, ia harus ngekos di desa lain. Itulah alasan mengapa aku bisa terdampar di pondok modern darussalam gontor. Sebagian besar teman-teman laki-lakiku dan beberapa teman perempuanku harus takluk pada keadaan untuk bekerja di perkebunan sawit yang memang menjamur di daerahku, dan hatiku selalu miris ketika mendengar bahwa pemilik perkebunan-perkebunan besar itu adalah orang china atau malaysia. Bahkan, sebagian besar teman perempuanku bahkan hanya menunggu waktu untuk dipinang oleh pemuda desa, atau berharap ada bos dari luar desa yang datang melamar mereka untuk sedikit mengangkat derajat hidup mereka. Dan hanya sebagian sangat kecil dari meraka yang dapat melanjutkan pendidikan mereka dengan alasan klasik, yang juga tertulis dalam mahfudzat “ ad dirhamu”, ya karena terbentur masalah biaya. Sebagai catatan, dari 16 teman sdku angkatan tahun 2003, hanya 2 orang yang hingga kini masih bisa menikmati bangku pendidikan, aku dan seorang temanku yang kini menempuh pendidikan kedokteran di universitas bengkulu.

Kini, aku telah sampai disini, dan ini bukanlah akhir, baru permulaan dari terwujudnya mimpi-mimpiku. meskipun aku telah berjalan pada track visiku yang benar, semuanya bergantung juga pada kerja keras dan konsistensiku nantinya dalam usaha shaping my uncertain destiny.

“Our challenges may be new. The instruments with which we meet them may be new. But those values upon which our success depends — honesty and hard work, courage and fair play, tolerance and curiosity, loyalty and patriotism — these things are old. These things are true. They have been the quiet force of progress throughout our history.” ( Barrack obama)

Monday, 7 June 2010

Kebenaran Kita Kini

Ketika kebenaran menjadi ambigu
Dan kemutlakan dianggap abu-abu
Suara hati dilabeli egoisme
Jeritan nurani dicap irrasionalisme
Kepada apa kita bisa bersandar
Jika bukan pada nilai yang kini telah terlempar
Hukum kini bukanlah soal kualitas’
Tetapi merupakan otoritas kaum mayoritas
Kala suara menjadi tuhan
Para ulamapun dikesampingkan
Orang-orang bodoh seolah berjuang
Namun pemenang akhirnya adalah pemilik uang
Lekangkah olehmu kegigihan socrates
Menentang silat lidah kaum sofis
Meski harus mati meregang nyawa
Demi nilai yang absolut adanya
Meski dunia semakin membingungkan
Semuanya pasti kan terpecahikan
Tanya saja pada hatimu
Karena ia takkan dustai dirimu